Sabtu, 23 Juni 2012


Tips – Menjadi orang berkepribadian baik


Mungkin ini dapat membantu sedikit agar tema-teman dapat berubah menjadi lebih baik
1.ROYALAH DALAM MEMBERI SEBUAH PUJIAN
Pujian itu seperti air segar yang bisa menawarkan rasa haus manusia akan penghargaan. Dan kalau Anda selalu siap membagikan air segar itu kepada orang lain, Anda berada pada posisi yang strategis untuk disukai oleh orang lain. Caranya? Bukalah mata lebar-lebar untuk selalu melihat sisi baik pada sikap dan perbuatan orang lain. Lalu pujilah dengan tulus. Walau orang tersebut melakukan kesalahan tetapi dengan memberikan pujian maka kita akan di sukai.
2.BUATLAH ORANG LAIN MERASA DIRINYA SEBAGAI ORANG PENTING
Tunjukkanlah dengan sikap dan ucapan bahwa anda menganggap orang lain itu penting. Misalnya, jangan biarkan orang lain menunggu terlalu lama, katakanlah maaf bila salah, tepatilah janji, dsb. Hargai setiap perkataan nya dan buat dia menjadi malu karena kita terlalu peduli padanya.
3.JADILAH PENDENGAR YANG BAIK
Kalau bicara itu perak dan diam itu emas, maka pendengar yang baik lebih mulia dari keduanya. Pendengar yang baik adalah pribadi yang dibutuhkan dan disukai oleh semua orang. Berilah kesempatan kepada orang lain untuk bicara, ajukan pertanyaan dan buat dia bergairah untuk terus bicara. Dengarkanlah dengan antusias, dan jangan menilai atau menasehatinya bila tidak diminta. Inilah cara yang cukup efektif, jangan suka memotong pembicaraan.
4.USAHAKANLAH UNTUK SELALU MENYEBUTKAN NAMA ORANG DENGAN BENAR
Nama adalah milik berharga yang bersifat sangat pribadi. Umumnya orang tidak suka bila namanya disebut secara salah atau sembarangan. Kalau ragu, tanyakanlah bagaimana melafalkan dan menulis namanya dengan benar. Misalnya, orang yang dipanggil Wilyem itu ditulisnya William, atau Wilhem? Sementara bicara, sebutlah namanya sesering mungkin. Menyebut Andre lebih baik dibandingkan Anda. Pak Peter lebih enak kedengarannya daripada sekedar Bapak. Panggil namanya, kalau belum pasti dengan namanya maka pastikan lah.

5.BERSIKAPLAH RAMAH DAN SOPAN

Semua orang senang bila diperlakukan dengan ramah. Keramahan membuat orang lain merasa diterima dan dihargai. Keramahan membuat orang merasa betah berada di dekat Anda. Jadi bersikaplah ramah pada siapapun.
6.BERMURAH HATILAH
Anda tidak akan menjadi miskin karena memberi dan tidak akan kekurangan karena berbagi. Seorang yang sangat bijak pernah menulis, Orang yang murah hati berbuat baik kepada dirinya sendiri. Dengan demikian kemurahan hati disatu sisi baik buat Anda, dan disisi lain berguna bagi orang lain.
7.HINDARI KEBIASAAN MENGKRITIK, MENCELA ATAU MENGANGGAP REMEH
Umumnya orang tidak suka bila kelemahannya diketahui oleh orang lain, apalagi dipermalukan. Semua itu menyerang langsung ke pusat harga diri dan bisa membuat orang mempertahankan diri dengan sikap yang tidak bersahabat. Jadi jangan ejek temanmu yang salah, berusahalah untuk menghargai pendapatnya walau kamu tidak setuju dengan pendapatnya.
8.BERSIKAPLAH ASERTIF
Orang yang disukai bukanlah orang yang selalu berkata Ya, tetapi orang yang bisa berkata Tidak bila diperlukan. Sewaktu-waktu bisa saja prinsip atau pendapat Anda berseberangan dengan orang lain. Anda tidak harus menyesuaikan diri atau memaksakan mereka menyesuaikan diri dengan Anda. Jangan takut untuk berbeda dengan orang lain. Yang penting perbedaan itu tidak menimbulkan konflik, tapi menimbulkan sikap saling pengertian. Sikap asertif selalu lebih dihargai dibanndingkan sikap Yesman. Tepat.

9.PERBUATLAH APA YANG ANDA INGIN ORANG LAIN PERBUAT KEPADA ANDA

Perlakuan apapun yang anda inginkan dari orang lain yang dapat menyukakan hati, itulah yang harus anda lakukuan terlebih dahulu. Anda harus mengambil inisiatif untuk memulainya. Misalnya, bila ingin diperhatikan, mulailah memberi perhatian. Bila ingin dihargai, mulailah menghargai orang lain. (humm… kalo mau minta barang, berarti musti kasi barang nya dulu??) haha..
10.CINTAILAH DIRI SENDIRI
Mencintai diri sendiri berarti menerima diri apa adanya, menyukai dan melakukan apapun yang terbaik untuk diri sendiri. Ini berbeda dengan egois yang berarti mementingkan diri sendiri atau egosentris yang berarti berpusat kepada diri sendiri. Semakin Anda menyukai diri sendiri, semakin mudah Anda menyukai orang lain, maka semakin besar peluang Anda untuk disukai orang lain. Dengan menerima dan menyukai diri sendiri, Anda akan mudah menyesuaikan diri dengan orang lain, menerima mereka dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, bekerjasama dengan mereka dan menyukai mereka. Pada saat yang sama tanpa disadari Anda memancarkan pesona pribadi yang bisa membuat orang lain menyukai Anda.

Selasa, 05 Juni 2012

PEMBELAJARAN PADA ANAK SD


PEMBELAJARAN PADA ANAK SD

Pembelajaran Aktif Pada Anak SD
Keberhasilan pencapaian kompetensi suatu mata pelajaran bergantung kepada beberapa aspek. Salah satu aspek yang sangat mempengaruhi kebehasilan pencapaian kompetensi adalah cara guru dalam melaksanakan pembelajaran. Kecenderungan yang terjadi pada proses pembelajaran di Indonesia adalah kegiatan belajar masih berpusat pada guru, yaitu guru lebih banyak bercerita atau berceramah. Siswa tidak banyak aktif terlibat dalam proses pembelajaran, guru tidak/jarang menggunakan media pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi kering dan kurang bermakna. Oleh karena itu paradigma lama di mana orientasi belajar lebih berpusat pada guru harus mulai ditinggalkan dan diganti dengan orientasi belajar lebih berpusat pada siswa atau pembelajaran aktif.
Pembelajaran aktif (active learning) adalah istilah umum yang menggambarkan suatu pendekatan pembelajaran yang secara luas diterima di seluruh dunia sebagai praktik terbaik (best practice). Pendekatan ini didasarkan pada prinsip bahwa cara belajar terbaik bagi anak-anak adalah dengan melakukan, dengan menggunakan semua inderanya, dan dengan mengeksplorasi lingkungannya seperti orang, tempat, sesuatu hal, kejadian atau peristiwa yang ada di sekitar kehidupan sehari-hari anak. Mereka harus belajar dari pengalaman langsung dan konkrit (misalnya mengukur luas, menanam bunga, membuat denah, membuat karangan, dan sebagainya) serta berbagai bentuk pengalaman lainnya (misalnya membaca buku, melihat berita di TV, mengunjungi museum). Keterlibatan aktif dengan benda dan gagasan ini mendorong anak aktif berfikir untuk mendapatkan pengetahuan baru dan memadukannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.
Pembelajaran yang aktif, merupakan proses pembelajaran di mana seorang guru harus dapat menciptakan suasana yang sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan dan juga mengemukakan gagasannya. Keaktifan siswa ini sangat penting untuk membentuk generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan juga orang lain. Sedangkan proses pembelajaran yang menyenangkan, berkaitan erat dengan suasana belajar yang menyenangkan sehingga siswa dapat memusatkan perhatianya secara penuh pada belajarnya. Hal ini membutuhkan kreativitas guru untuk dapat menghidupkan suasana belajar mengajar sehingga menjadi tidak membosankan bagi para siswanya. “Keadaan yang aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai oleh para siswa, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan yang harus dicapai”.


Jika pembelajaran hanya dengan membaca (reading), maka berapa banyak kecenderungan untuk mengingat (How much we tend to remember), yaitu hanya 10% dari apa yang dibaca (10% of what we read). Sedangkan pada derajat keterlibatan siswa (Our level of involvement) termasuk dalam kelompok pasif (passive), yaitu dapat diterima secara lisan saja (verbal receiving). Pada pembelajaran dengan melakukan sebuah aksi presentasi (doing a dramatic presentation), simulasi pengalaman nyata (simulating a real experience), dan melakukan sesuatu kegiatan yang nyata atau dengan benda-benda/alat sesungguhnya (doing the real thing) akan memberikan kecenderungan mengingat sebesar 90% apa yang dikatakan dan dilakukan. Sedangkan derajat keterlibatan siswa tergolong aktif. Dengan demikian, berarti belajar dengan melakukan (doing) dapat diingat dan diulang kembali dengan kecenderungan berkisar 90%.
Pembelajaran aktif merupakan sesuatu pembelajaran dimana siswa dimungkinkan untuk lebih banyak melakukan daripada hanya mendengar saja. Hal ini sesuai dengan konsep pembelajaran yang sudah digambarkan oleh Edgar Dale, sehingga pembelajaran aktif merupakan sesuatu cara pembelajaran yang tidak dapat ditunda lagi untuk dapat diimplementasikan pada anak didik kita, terutama pada pendidikan dasar. Pembelajaran aktif juga dapat mengangkat tingkat pembelajaran dari ketrampilan berfikir tingkat rendah (pengamatan, menghafal, mengingat informasi, dan mengetahui) hingga ketrampilan berfikir tingkat tinggi (memecahkan masalah, analisis, sisntesis, dan sebagainya). Di Indonesia pembelajaran aktif ini diistilahkan dengan PAKEM, yaitu pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Pendekatan Pakem ini diharapkan diimplementasikan untuk membelajarkan anak-anak tingkat Sekolah Dasar (SD).


Dalam implementasi PAKEM ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1. Memahami sifat anak. Pada dasarnya anak memiliki sifat rasa ingin tahu dan atau berimajinasi. Maka kegiatan pembelajaran hendaknya menjadi lahan bagi berkembangnya kedua sifat tersebut.
2. Mengenal anak secara perorangan. Anak berasal dari latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Perbedaan individu harus diperhatikan, anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya).
3. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar. Siswa secara alami senang bermain bersama-sama dalam kelompok atau bersama teman-temannya. Perilaku ini dapat dimanfaatkan guru dalam mengorganisir kelas, sehingga memudahkan siswa untuk berinteraksi atau bertukar pikiran.
4. Mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan kreatif serta mampu memecahkan masalah. Kedua jenis pemikiran tersebut sebenarnya sudah ada sejak lahir, guru diharapkan dapat mengembangkannya. Kritis untuk menganalisis masalah, dan kreatif untuk melahirkan pemecahan masalah.
5. Menciptakan ruangan kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik. Ruangan yang menarik sangat penting dalam Pakem. Media dan alat bantu mengajar perlu ditata dalam kel;as sedemikian rupa sehingga memudahkan siswa untuk memanfaatkannya. Demikian juga hasil karya siswa perlu dipajang di kelas atau di luar kelas dalam rangka untuk memberikan motivasi siswa bekerja lebih baik lagi, dan memberikan inspirasi bagi teman yang lain.
6. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Lingkungan (fisik, sosial, budaya), yang ada di sekitar sekolah atau rumah dapat dijadikan sumber belajar yang menarik, karena berkaitan dan dekat dengan kehidupan anak sehari-hari.
7. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental. Dalam Pakem, aktif mental lebih diinginkan muncul daripada aktif fisik. Aktif mental ditandai dengan kegiatan sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, mengemukakan pendapat, dan sebagainya.
8. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan aktivitas. Umpan balik lebih ditujukan untuk meningkatkan interaksi siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan guru. Namun umpan balik diharapkan lebih mengungkapkan kekuatan/kelebihan daripada kelemahan siswa.
Untuk pengembangan dan pencapaian pembelajaran model Pakem ini, salah satunya kini digulirkan Program Desentralisasi Pendidikan Dasar (Desentralized Basic Education/DBE). Program Desentralisasi Pendidikan Dasar ialah program kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Amerika Serikat. Program ini merupakan payung kerjasama antara Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) dan USAID (The United States Agency for International Development).
Tujuan dari program ini ialah peningkatan kualitas pendidikan dasar di Indonesia melalui tiga komponen kegiatan yang saling berintegrasi, yaitu:
1) desentralisasi manajemen dan tata pelayanan pendidikan yang lebih efektif (DBE1),
2) peningkatan kualitas belajar mengajar (DBE2), serta
3) peningkatan relevansi pendidikan menengah dan pendidikan luar sekolah melalui kecakapan hidup dan keterampilan vokasional (DBE3).
Area yang dicakup Program Desentralisasi Pendidikan Dasar USAID/Indonesia (Program DBE) ialah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Banten, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara. Program ini berlangsung mulai tahun 2005 sampai 2010 dan diharapkan akan membantu meningkatkan pendidikan untuk lebih dari 2.400 sekolah dan lebih dari 250 ribu siswa di 100 kabupaten/kota.

Suasana Pembelajaran Aktif di Kelas
Ketika desentralisasi pendidikan sedang digulirkan dan paradigma baru pendidikan kita dikembangkan, tidak ada jalan lain kecuali kita harus secara terus-menerus memberdayakan guru dengan mengembangkan sensitivitas dan kreativitasnya. Pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat. Keberhasilan pendidikan (implementasi Pakem di Sekolah Dasar), akan dapat lebih mudah dicapai jika mendapat dukungan berbagai pihak. Dukungan berbagai pihak, berasal dari kepala sekolah, guru, orang tua murid dan pengawas sekolah, yang dalam hal ini disebut sebagai tim sekolah.
Dalam pelatihan pembelajaran aktif yang dilakukan DBE2 melibatkan semua tim sekolah tersebut dalam pelatihan Pakem yang diakhiri sampai pendampingan di kelas pada semua guru.
Berdasarkan prinsip kepemimpinan pembelajaran, kepala sekolah perlu mengetahui dan mampu mengimplementasikan Pakem agar dapat memberikan dukungan, pengarahan, dan umpan balik yang bermanfaat pada para gurunya. Dengan kepala sekolah juga mengikuti pelatihan, diharapkan akan memberikan masukan yang tidak dilakukan dengan cara mengancam/mengintimidasi tetapi dengan memotivasi. Selanjutnya kepala sekolah akan dapat mengarahkan tim selolah untuk melakukan analisis mengenai praktik pengajaran yang ada di sekolahnya dan mengembangkan serta mengimplementasikan rencana tindak lanjut (action plan) untuk meningkatkan pembelajaran di masa yang akan datang.
Sedangkan pengawas sekolah dan komite sekolah, akan mendapatkan pemahaman yang jelas mengenai Pakem serta sumberdaya yang diperlukan untuk mengimplementasikannya. Untuk pengawas sekolah keikutsertaan dalam pelatihan dimaksudkan untuk memberikan dukungan dalam hal alokasi sumber daya keuangan dan bahan yang diperlukan, dan kebijakan. Untuk para orang tua selain memberikan dukungan materiil dan imateriil juga akan dapat terjalin komunikasi yang efektif dengan sekolah mengenai implementasi Pakem.
Pemilihan Metode Mengajar Yang Efektif Untuk Sekolah Dasar
Hubungan Pembelajaran dengan Metode Mengajar
1.      Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan metode mengajar diantaranya adalah faktor tujuan pembelajaran, karakteristik materi pelajaran, faktor siswa, faktor alokasi waktu, dan fasilitas penunjang.
2.      Pembelajaran merupakan kegiatan yang bertujuan yang banyak melibatkan aktivitas siswa dan aktivitas guru. Untuk mencapai tujuan pengajaran perlu adanya metode mengajar.
3.      Pemilihan metode mengajar harus mempertimbangkan pengembangan kemampuan siswa yang lebih kreatif inovatif dan dikondisikan pada pembelajaran yang bersifat problematis. Pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar secara mandiri dan belajar secara kelompok.
4.      Metode mengajar memiliki fungsi sentral dalam pembelajaran diantaranya yaitu sebagai alat atau cara untuk mencapai tujuan pembelajaran.
5.      Tujuan pembelajaran yang harus dikembangkan berdasarkan ranah tujuan kognitif, afektif dan psikomotor. Ranah tujuan tersebut akan memungkinkan dicapai pada tujuan yang bersifat umum.
6.      Setiap pemilihan metode mengajar harus didasarkan pada hasil kajian antara perilaku yang diharapkan dengan cara yang akan ditempuh dalam pembe-lajaran.
Hubungan Pengalaman Belajar dengan Metode Mengajar
1.      Pengalaman belajar (learning experience) merupakan suatu proses atau hasil kegiatan belajar yang dilakukan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2.      Penggunaan metode ceramah esensinya menyajikan bahan pelajaran secara lisan oleh guru, yang akan membentuk pengalaman belajar dalam kemampuan menyimak, dan pemahaman terhadap informasi dari materi pelajaran yang disajikan.
3.      Penggunaan metode diskusi esensinya menyajikan bahan pelajaran melalui sesuatu problem yang harus diselesaikan secara bersama dibimbing oleh guru, yang akan membentuk pengalaman belajar siswa dalam menjawab persoalan serta belajar secara kerja sama dan membuat suatu keputusan.
4.      Penggunaan metode simulasi esensinya menyajikan bahan pelajaran melalui objek atau kegiatan pembelajaran yang bukan sebenarnya. Pengalaman belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi kemampuan kerja sama, komunikatif, dan mengiterpretasikan sesuatu kejadian.
5.      Penggunaan metode demonstrasi esensinya menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung pada objeknya atau caranya melakukan sesuatu untuk mempertunjukkan sesuatu proses. Pengalaman belajar yang diperoleh melalui metode ini meliputi kemampuan bekerja dan berpikir secara sistematis, dan mengamati objek yang sebenarnya.
6.      Penggunaan metode eksperimen esensinya menyajikan bahan pelajaran melalui percobaan serta mengamati sesuatu proses. Pengalaman belajar yang akan diperoleh adalah menguji sesuatu, menguji hipotesis, menemukan hasil percobaan dan mengembangkan rasa ingin tahu siswa. Dalam membentuk pengalaman belajar siswa cenderung menggunakan metode-metode yang memiliki kadar CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) dan keterampilan proses, serta metode mengajar digunakan secara multi metode dan bervariasi.


Kondisi-kondisi dalam Pencapaian Tujuan Belajar
Beberapa butir penting yang telah Anda pahami dari kegiatan belajar tiga yaitu:
1.      Kondisi-kondisi yang perlu diidentifikasi dalam pencapaian tujuan belajar terdiri atas kondisi internal dan kondisi eksternal. Kondisi internal yaitu kondisi-kondisi yang berasal dari dalam diri siswa, sedangkan kondisi eksternal yaitu kondisi-kondisi yang timbul dari luar diri siswa.
2.      Kondisi internal yang mempengaruhi pencapaian tujuan belajar, diantaranya:
1.      Sikap siswa terhadap proses belajar yang dilakukannya
2.      Motivasi belajar, terutama motivasi intrinsik
3.      Konsentrasi selama melakukan kegiatan belajar
4.      Kadar inteligensi yang dimiliki siswa
5.      Rasa percaya diri untuk belajar
3.      Kondisi eksternal yang mempengaruhi pencapai tujuan belajar, diantaranya:
1.      Kualitas guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.
2.      Sarana dan prasarana yang menunjang pembelajaran.
Lingkungan sosial siswa di sekolah menempati  posisi  penting  dalam  usaha  peningkatan  kualitas  lulusan. Untuk  itu  guru  dituntut  harus  mampu  merancang  dan  melaksanakan program pengalaman belajar dengan tepat. Setiap siswa memerlukan bekal pengetahuan dan kecakapan agar dapat hidup di masyarakat dan bekal ini diharapkan  diperoleh  melalui  pengalaman  belajar  di  sekolah.  Oleh  sebab itu  pengalaman  belajar  di  sekolah  sedapat  mungkin  memberikan  bekal siswa  dalam  mencapai  kecakapan  untuk  berkarya.  Kecakapan  ini  disebut dengan  kecakapan  hidup  yang  cakupannya  lebih  luas  disbanding  hanya sekedar ketrampilan.
Karakteristik Pembelajaran Terpadu
Sebagai  suatu  proses,  pembelajaran  terpadu  memiliki  karakteristik sebagai berikut:
1. Pembelajaran berpusat pada anak
Pembelajaran   terpadu   dikatakan   sebagai   pembelajaran   yang berpusat   pada   anak,   siswa   dapat   aktif   mencari,   menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip dari suatu pengetahuan yang harus dikuasainya sesuai dengan perkembangannya.
2.      Menekankan pembentukan, pemahaman dan kebermaknaan
Pembelajaran  terpadu  mengkaji  suatu  fenomena  dari  berbagai macam  aspek  yang  membentuk  semacam  jalinan  antar  skemata  yang dimiliki  siswa.  Hal  ini  diharapkan  akan  berakibat  pada  kemampuan siswa untuk dapat  menerapkan perolehan belajarnya pada pemecahan masalah-masalah yang nyata dalam kehidupannya.
3.  Belajar melalui pengalaman langsung
Pada  pembelajaran  terpadu  SD X diprogramkan untuk melibatkan siswa secara langsung pada konsep dan prinsip yang dipelajari   dan   memungkinkan   siswa   belajar   dengan   melakukan perbuatan  kegiatan  langsung.  Sehingga  siswa  akan  memahami  hasil belajarnya  sesuai  dengan  fakta  dan  peristiwa  yang    mereka  alami bukan sekedar informasi dari gurunya.
4.    lebih memperhatikan proses dari pada hasil semata.
Pembelajaran terpadu dikembangkan pendekatan discovery inquiry (penemuan  terbimbing)  yang  melibatkan  siswa  secara  aktif  dalam proses pembelajaran yaitu mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai proses evaluasi.
5.    Sarat dengan muatan keterkaitan
Pembelajaran terpadu memusatkan perhatian pada pengamatan dan pengkajian  suatu  gejala  atau  peritiwa  dari  beberapa  mata  pelajaran sekaligus  sehingga  memungkinkan  siswa  untuk  memahami  suatu fenomena dari segala sisi.
Tujuan Pembelajaran terpadu
Pembelajaran   terpadu   dikembangkan   selain   untuk   mencapai   tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, diharapkan siswa juga dapat:
1. meningkatkan   pemahaman   konsep   yang   dipelajarinya   secara   lebih bermakna.
2. mengembangkan ketrampilan menemukan, mengolah dan memanfaatkan informasi.
3. menumbuhkembangkan sifat positif, kebiasaan baik dan nilai nilai luhur yang diperlukan dalam kehidupan
4. menumbuhkembangkan ketrampilan sosial  seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, serta menghargai pendapat orang lain.
5. meningkatkan gairah dalam belajar.
Menurut Dr Rose Mini AP, M Psi seorang psikolog pendidikan, seks bagi anak wajib diberikan orangtua sedini mungkin. “Pendidikan seks wajib diberikan orangtua pada anaknya sedini mungkin. Tepatnya dimulai saat anak masuk play group (usia 3-4 tahun), karena pada usia ini anak sudah dapat mengerti mengenai organ tubuh mereka dan dapat pula dilanjutkan dengan pengenalan organ tubuh internal,” papar almamater Universitas Indonesia dalam OKEZONE, Rabu(20/2/2008).
Menurutnya, pendidikan seks didefinisikan sebagai pendidikan mengenai anatomi organ tubuh yang dapat dilanjutkan pada reproduksi seksual. Dengan mengajarkan pendidikan seks pada anak, menghindarkan anak dari resiko negatif perilaku seksual. Karena dengan sendirinya anak akan tahu mengenai seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama, dan adat istiadat, serta kesiapan mental dan material seseorang.
“Pengenalan seks pada anak dapat dimulai dari pengenalan mengenai anatomi tubuh. Kemudian meningkat pada pendidikan mengenai cara berkembangbiak makhluk hidup, yakni pada manusia dan binatang. Nah, kalau sudah tahu, orangtua dapat memberi tahu apa saja dampak-dampak yang akan diterima bila anak begini atau begitu,” ucap wanita ramah ini.
Salah satu cara menyampaikan pendidikan seksual pada anak dapat dimulai dengan mengajari mereka membersihkan alat kelaminnya sendiri.
“Ajari anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB), agar anak dapat mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Pendidikan ini pun secara tidak langsung dapat mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminnya,” papar wanita yang akrab disapa Rose.
Masih menurutnya, cara menyampaikan pendidikan seksual itu pun tidak boleh terlalu vulgar, karena justru akan berdampak negatif pada anak. Di sini orangtua sebaiknya melihat faktor usia. Artinya ketika akan mengajarkan anak mengenai pendidikan seks, lihat sasaran yang dituju. Karena ketika anak sudah diajarkan mengenai seks, anak akan kristis dan ingin tahu tentang segala hal.

komponen-komponen pembelajaran

KOMPONEN PEMBELAJARAN 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 
Belajar merupakan peristiwa sehari hari disekolah. Belajar merupakan hal yang komplek. Kompleksitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subyek, yaitu dari siswa dan dari guru. Dari segi siswa, belajar di alami sebagai suatu proses. 
Siswa mengalami proses mental dalam menghadapi bahan belajar. Dari segi guru, proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang suatu hal.  


1.2 Rumusan Masalah 
•  Apa pengertian komponen pembelajaran ? 
•  Apa saja macam-macam komponen pembelajaran ? 
•  Apa hubungan antar komponen pembelajaran ? 
•  Apa fungsi masing-masing komponen pembelajaran ? 

1.3 Tujuan 
•  Untuk mengetahui pengertian dari komponen pembelajaran 
•  Untuk mengetahui macam-macam komponen pembelajaran 
•  Untuk mengidentifikasi hubungan masing-masing komponen pembelajaran 
•  Untuk mengetahui fungsi dari masing-masing komponen pembelajaran 

BAB II
PEMBAHASAN

1.1 Pengertian Komponen Pembelajaran 
Pembelajaran diambil dari terjemahan  kata "Instructional". Seringkali orang membedakan kata pembelajaran ini dengan  "pengajaran", akan tetapi tidak jarang pula orang memberikan pengertian yang sama untuk kedua kata tersebut. Menurut Arief S. Sadiman, kata pembelajaran  dan kata pengajaran dapat dibedakan pengertiannya. Kalau kata pengajaran hanya ada di dalam konteks guru-murid di 
kelas formal, sedangkan kata pembelajaran tidak hanya ada dalam konteks guru- murid di kelas formal, akan tetapi juga meliputi kegiatan belajar mengajar yang tak dihadiri oleh guru secara fisik di dalam kata pembelajaran ditekankan pada kegiatan belajar siswa melalui usaha-usaha yang  terencana dalam memanipulasi sumber- sumber belajar agar terjadi proses belajar. Dengan definisi seperti ini, kata pengajaran lingkupnya lebih sempit dibanding kata pembelajaran. Di pihak lain ada yang berpandangan bahwa kata pembelajaran dan kata pengajaran pada hakekatnya sama, yaitu suatu proses interaksi antara guru dan siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. 

Kedua pandangan tersebut dapat digunakan, yang terpenting adalah interaksi yang terjadi antara guru dan siswa itu harus adil, yakni adanya komunikasi yang timbal balik di antara keduanya, baik  secara langsung maupun tidak langsung atau melalui media. Siswa jangan selalu dianggap sebagai subjek belajar yang tidak tahu apa-apa. Ia memiliki latar belakang, minat, dan kebutuhan, serta kemampuan yang berbeda. Peranan guru tidak hanya terbatas sebagai pengajar (penyampai ilmu pengetahuan), tetapi juga sebagai pembimbing, pengembang, dan pengelola kegiatan pembelajaran yang dapat memfasilitasi kegiatan belajar siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.  

Setelah guru mempelajari kurikulum yang berlaku, selanjutnya membuat suatu desain pembelajaran dengan mempertimbangkan kemampuan awal siswa (entering behavior), tujuan yang hendak dicapai, teori belajar dan pembelajaran, karakteristik 
bahan yang akan diajarkan, metode dan media atau sumber belajar yang akan digunakan, dan unsur-unsur lainnya sebagai penunjang. Setelah desain dibuat, kemudian KBM atau pembelajaran dilakukan. Dalam hal ini ada dua kegiatan utama, yaitu guru bertindak mengajar dan siswa bertindak belajar. Kedua kegiatan tersebut berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Pada akhirnya implementasi pembelajaran itu akan menghasilkan suatu hasil belajar. Hasil ini akan memberikan dampak bagi guru dan siswa.  

Bagi guru sebagai dampak pembelajaran  (instructional effect) berupa hasil yang dapat diukur sebagai data hasil belajar siswa (angka/nilai) dan berupa masukan bagi pengembangan pembelajaran selanjutnya. Sedangkan bagi siswa sebagai dampak 
pengiring (nurturent effect) berupa terapan pengetahuan dan atau kemampuan di bidang lain sebagai suatu  transfer belajar yang akan membantu perkembangan mereka mencapai keutuhan dan kemandirian. Jadi, ciri utama dari kegiatan pembelajaran adalah adanya interaksi. lnteraksi yang terjadi antara si belajar dengan lingkungan belajarnya, baik itu dengan  guru, teman-temannya, tutor, media 
pembelajaran, dan atau sumber-sumber belajar yang lain. Sedangkan ciri-ciri lainnya dari pembelajaran ini berkaitan dengan komponen-komponen pembelajaran itu sendiri. Dimana di dalam pembelajaran akan terdapat komponen-komponen sebagai berikut; komponen kurikulum, materi/bahan ajar, metode, media (alat pembelajaran), evaluasi, anak didik/ siswa, dan adanya pendidik/guru. 


1.1 Komponen-komponen Pembelajaran 
1.1.1  Komponen Kurikulum  
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan  pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, maka dalam penyusunan kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa menggunakan landasan yang kokoh dan kuat. 

Dengan diterapkannya kebijakan pemerintah (Depdiknas) yaitu pengembangan kurikulum operasional dilakukan oleh setiap  satuan pendidikan dengan program Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), maka seluruh jajaran di setiap satuan pendidikan harus memiliki pemahaman yang luas dan mendalam tentang landasan pengembangan kurikulum,  dan secara operasional harus dijadikan rujukan dalam mengimplementasikan kurikulum di setiap satuan pendidikan yang dikelolanya. 

Landasan yang dipilih untuk dijadikan dasar pijakan dalam mengembangkan kurikulum sangat tergantung atau dipengaruhi oleh pandangan hidup, kultur, kebijakan politik yang dianut oleh negara dimana kurikulum itu dikembangkan. Akan tetapi secara umum yang dipakai sebagai Landasan Pengembangan Kurikulum ada empat, yaitu landasan filosofis, psikologis, sosiologis, serta landasan ilmu 
pengetahuan dan teknologi adalah landasan umum dan pokok sebagai dasar pijakan dalam mengembangkan kurikulum. 

 Seorang guru seharusnya dapat  memahami dan mengimplementasikan penerapan landasan filosofis dalam mengembangkan kurikulum baik pengembangan pada level makro maupun pengembangan pada tingkat operasional oleh setiap satuan pendidikan, seperti: 


1.  Dapat memahami dan mengimplementasikan penerapan landasan Psikologis 
dalam mengembangkan kurikulum baik pengembangan pada level makro maupun pengembangan pada tingkat operasional oleh setiap satuan pendidikan 
2.  Dapat memahami dan mengimplementasikan penerapan landasan Sosiologis 
dalam mengembangkan kurikulum baik pengembangan pada level makro maupun pengembangan pada tingkat operasional oleh setiap satuan pendidikan 
3.  Dapat memahami dan mengimplementasikan penerapan landasan Ilmu 
Pengetahuan dan Teknologi dalam  mengembangkan kurikulum baik pengembangan pada level makro maupun pengembangan pada tingkat operasional oleh setiap satuan pendidikan Kemampuan tersebut diatas sangat penting dimiliki oleh seorang guru, 
mengingat salah satu fungsi dan peran guru adalah sebagai pengembang kurikulum. Adapun modal dasar agar dapat menghasilkan kurikulum yang dapat diterima oleh pihak-pihak yang berkepentingan (Stake holder), salah satu syaratnya bahwa  kurikulum harus dikembangkan dengan didasarkan pada sejumlah landasan yang tepat, kuat dan kokoh. 


Nana Sy. Sukmadinata (1988:110) mengemukakan 4 komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah tujuan,  isi, atau materi, proses atu system penyampaian, serta evaluasi.  Komponen-komponen kurikulum sebelumnya terdiri dari: 
 a. Tujuan 
Tujuan sebagai sebuah komponen kurikulum merupakan kekuatan fundamental yang peka sekali, karena hasil kurikuler yang diinginkan tidak hanya sangat mempengaruhi bentuk kurikulum, tetapi memberikan arah dan focus untuk seluruh program pendidikan (Zais, 1976: 297). Hirarki vertical tujuan kurikulum di Indonesia, paling tinggi adalah tujuan pendidikan nasional, kemudian tujuan kelembagaan, tujuan kurikuler, dan tujuan pengajaran. Tujuan pendidikan nasional merupakan kurikulum tertinggi yang bersumber pada falsafah bangsa (pancasila) dan kebutuhan masyarakat tertuang dalam GBHN dan UU-SPN. Tujuan  kelembagaan (tujuan institusional) 
merupakan tujuan yang menjabarkan pendidikan nasional, bersumber pada tujuan tiap jenjang pendidikan dalam UU-SPN, karakteristik lembaga, dan kebutuhan masyarakat. Tujuan mata pelajaran dijabarkan dari tujuan kelembagaan, bersumber pada karakteristik mata pelajaran, karakteristik lembaga dan kebutuhan masyarakat. 
 Tujuan pengajaran terbagi menjadi 2 macam, yakni Tujuan Umum Pengajaran (TUP) dan Tujuan Khusus Pengajaran (TKP). 
b. Materi atau pengalaman belajar 
 merupakan fungsi khusus dari kurikulum pendidikan formal adalah memilih dan menyusun isi (komponen kedua dari kurikulum) supaya keinginan tujuan kurikulum dapat tercapai dengan cara paling efektif dan supaya pengetahuan paling penting yang diinginkan pada jalurnya dapat disajikan secara efektif (Zais, 1976:322). 
Selain itu,mencapai tiap tujuan mengajar ynag telah ditentukan diperlukan bahan ajaran (Nana.Sy. sukmadinata, 1988:114). Tetapi tidak cukup hanya isi atau bahan ajar yang dipikirkan dalam kegiatan pengembangan kurikulum, lebih dari itu adalah pengalamn beljar yang mampu mendukung pencapaian tujuan secara lebih efektif.isi atau materi kurikulum adalah semua pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai, dan sikap terorganisasi dalam bidang studi. Sedangkan pengalamn belajar dapat diartikan sebagai kegiatan belajar tentang disiplin berpikir dari suatu disiplin ilmu. 
c. Organisasi 
 Berdasarkan pendapat Taba, bahwa materi dan pengalamn belajar dalam kurikulum diorganisasikan  untuk mengefektifkan pencapaian tujuan. Masalah- masalah utama organisasi kurikuulum  berkisar pada ruang lingkup, sekuensi, kontinuitas, dan integrasi. 
d. Evaluasi  Merupakan komponen belajar keempat kurikulum, merupakan aspek kegiatan 
pendidikan yang dipandang paling kecil (Zais, 1976:369). Evaluasi ditujukan untuk melakukan evaluasi terhadap belajar sisiwa maupun keefektifan kurikulum dan pembelajaran. Evaluasi kurikulum secara luas tidak hanya menilai dokumen tertulis, tetapi yang lebih penting adalah kurikulum yang diterapkan sebagai bahan fungsional darai kejadian yang meliputi interaksi siswa, guru, material, dan lingkungan. 
Tujuan evaluasi ada 11: 
1.  Memperkuat kegiatan belajar 
2.  Menguji pemahaman dan kemampuan siswa  
3.  Memastikan pengetahuan prasyarat yang sesuai 
4.  Mendukung terlaksananya kegiatan pembelajaran 
5.  Memotivasi siswa 
6.  Memberi umpan balik bagi siswa  
7.  Memberi umpan balik bagi guru 
8.  Memelihara standart mutu 
9.  Mencapai kemajuan proses dan hasil belajar 
10.  Memprediksi kinerja pembelajaran selanjutnya 
11.  Menilai kualitas belajar 


1.1.2  Guru 
Guru dari  bahasa Sansekerta  guru yang juga berarti  guru, tetapi artinya harafiahnya adalah “berat” adalah seorang pengajar suatu ilmu. 
Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,  mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. 
Guru adalah  pendidik dan  pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru. Beberapa istilah yang juga menggambarkan peran guru, antara lain: 
Selain siswa, faktor penting dalam proses belajar mengajar adalah guru. Guru sangat berperan penting dalam menciptakan kelas yang komunikatif.  Breen  dan Candlin dalam  Nunan(1989:87) mengatakan bahwa peran guru adalah sebagai fasilitator dalam proses yang komunikatif, bertindak sebagai partisipan, dan yang ketiga bertindak sebagai pengamat. 
Tugas Guru
Daoed Yoesoef (1980) menyatakan bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu 
•  Tugas profesional, 
•  Tugas manusiawi, dan 
•  Tugas kemasyarakatan (sivic mission). 
Jika dikaitkan pembahasan tentang kebudayaan, maka tugas pertama berkaitan dengar logika dan estetika, tugas kedua dan ketiga berkaitan dengan etika. 
Tugas-tugas profesional dari seorang guru yaitu meneruskan atau transmisi ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai lain yang sejenis yang belum diketahui anak dan seharusnya diketahui oleh anak. 
Tugas manusiawi adalah tugas-tugas membantu anak didik agar dapat memenuhi 
tugas-tugas utama dan manusia kelak dengan sebaik-baiknya. Tugas-tugas manusiawi itu adalah transformasi diri, identifikasi diri sendiri dan pengertian tentang diri sendiri. 
Tugas kemasyarakatan merupakan konsekuensi guru sebagai warga negara yang baik, turut mengemban dan melaksanakan apa-apa yang telah digariskan oleh bangsa dan negara lewat UUD 1945 dan GBHN. 
Ketiga tugas guru itu harus dilaksanakan  secara bersama-sama dalam kesatuan organis harmonis dan dinamis. Seorang guru tidak hanya mengajar di dalam kelas saja tetapi seorang guru harus mampu menjadi  katalisator, motivator dan dinamisator 
pembangunan tempat di mana ia bertempat tinggal. 
Peran Guru
WF Connell (1972) membedakan tujuh peran seorang guru yaitu
1. Pendidik (nurturer), 
2. Model, 
3. Pengajar dan pembimbing, 
4. Pelajar (learner), 
5. Komunikator terhadap masyarakat setempat, 
6. Pekerja administrasi, serta 
7. Kesetiaan terhadap lembaga. 
Peran guru sebagai  pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan  dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas  tanggungjawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan.untuk  perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung 
jawab pendisiplinan anak harus mengontrol  setiap aktivitas anak-anak agar tingkat laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada. 
Peran guru sebagai model  atau  contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat,  bangsa dan negara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila. Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti persiapan perkawinan dan kehidupan keluarga, hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan memilih pekerjaan di masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggurfg jawab sosial  tingkah laku sosial anak. Kurikulum harus berisi hal-hal tersebut di atas sehingga anak memiliki pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dianut oleh bangsa dan negaranya, mempunyai pengetahuan dan keterampilan dasar untuk hidup dalam masyarakat dan pengetahuan untuk mengembangkan kemampuannya lebih lanjut. 
Peran guru sebagai pelajar  (leamer). Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman. Pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai 
tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan tugas profesional, tetapi juga tugas kemasyarakatan maupun tugas kemanusiaan. 
Peran guru sebagai setiawan dalam lembaga pendidikan. Seorang guru diharapkan dapat membantu kawannya yang memerlukan bantuan dalam mengembangkan kemampuannya. Bantuan dapat secara langsung melalui pertemuan-pertemuan resmi 
maupun pertemuan insidental. 
Peranan guru sebagai  komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang yang sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan  kemampuannya pada bidang-bidang dikuasainya. 
Guru sebagai administrator. Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. 
Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur. Segala pelaksanaan dalam kaitannya proses belajar mengajar perlu diadministrasikan secara baik. Sebab administrasi yang dikerjakan seperti membuat rencana mengajar, 
mencatat hasil belajar dan sebagainya merupakan dokumen yang berharga bahwa ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik. 
1.1.3  Siswa Siswa  atau Murid biasanya digunakan untuk seseorang yang mengikut suatu program pendidikan di sekolah atau lembaga pendidikan lainnya, di bawah bimbingan seorang atau beberapa guru.  Dalam  konteks keagamaan murid digunakan sebaai 
sebutan bagi seseorang yang mengikuti bimbingan seorang tokoh bijaksana. Siswa adalah inti dari proses belajar mengajar. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Kemp(1997:4),” students are the center of the teaching and learning process, so they 
have to be involved in almost all the phrases of the classroom interaction from planning to evaluation.” Untuk mendorong keterlibatan itu sendiri, Brown(1987:115) 
menekankan pentingnya perhatian pada motivasi belajar siswa. “The foreign language learner who is intrinsically meeting in needs in learning the language will positively motivated to learn. When students are motivated to learn, they usually pay attention, 
become actively involved in the learning and direct their energies to the learning task.” 
1.1.4  Metode 
Metode merupakan upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang tersusun dapat tercapai secara optimal. 
Metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Stategi menunjuk pada sebuah perencaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. Dengan demikian suatu 
strategi dapat dilaksanakan dengan berbagai metode. 
Berikut ini disajikan beberapa metode  pembelajaran yang bisa digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran.

A.  Metode Ceramah 
Metode caramah adalah penuturan bahan pelajaran secara lisan. 
Metode ini senantiasa bagus bila penggunaannya betul-betul disiapkan dengan baik, didukung oleh alat dan media  serta memperhatikan batas-batas kemungkinan penggunaannya. 
Metode ceramah merupakan metode yang sampai saat ini sering digunakan oleh setiap guru atau instruktur. Hal ini selain disebabkan oleh pertimbangan tertentu, juga  adanya factor kebiasaan  baik dari guru ataupun iswa. Guru biasanya belum merasa puas manakala dalam proses pengelolaan pembelajaran tidak melakukan ceramah. Demikian juga siswa, mereka akan belajar manakala guru memberikan materi pelajaran melalui caramah, sehingga ada guru yang ceramah ada proses belajar dan tidak ada guru berarti 
tidak belajar. Metode ceramah merupakan cara mengimplementasikan strategi pembelajaran ekspositori.

B.  Metode Demonstrasi 
Demonstrasi merupakan metode yang paling efektif, sebab membantu siswa untuk mencari jawaban secara sendiri berdasarkan fakgta atau data yang benar. Metode demonstrasi merupakan metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau sekedar tiruan. Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepasdari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekedar 
memperhatikan, akan tetapi demonstrasi akan dapat menyajikan pelajaran secara konkrit. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan pembeljaran ekspositori dan inkuiri.

C.  Metode Diskusi 
Metode diskusi merupakan metode yang menghadapkan siswa pada permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan (Killen, 1998). Karena itu diskusi, bukan merupakan debat yang bersifat mengadu argumentasi. Diskusi lebih bersifat bertukar pengalaman  untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama. Selama ini banyak guru yang merasa keberatan untuk 
menggunakan metode diskusi dalam proses pembelajaran. Selama ini banyak guru yang merasa keberatan untuk  menggunakan metode diskusi dalam pembelajaran. Keberatan itu biasanya timbul dari asumsi: 
1.Diskusi merupakan metode yang sulit diprediksi hasilnya oleh karena 
interaksi siswa muncul secara spontan, sehingga hasil diskusi sulit ditentukan. 
2. Diskusi biasanya memerlukan waktu yang cukup panjang, padahal waktu 
pembelajaran didalam kelas sangat terbatas, sehingga keterbatasan itu tidak 
mungkin menghasilkan secara tuntas.

D.  Metode Simulasi 
Simulasi berasal dari kata “stimulate” yang artinya berpura-pura atau seakan-akan. Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Simulasi dapat digunakan sebagai mengajar dengan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya.

E.  Metode Tugas dan Resitasi 
Metode tugas dan resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi lebih luas dari itu. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individu atau kelompok. Tugas dan resitasi bisa dilakukan di rumah, di sekolah, di perpustakaan dan tempat lainnya.

F.  Metode Tanya Jawab 
Metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat two way traffic sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru  dan siswa. Guru bertanya siswa menjawab, siswa bertanya guru menjawab. Dalam komunikasi ini terlihat adanya hubungan timbal balik secara langsung antar guru.

G. Metode Kerja Kelompok 
Metode kerja kelompok atau bekerja dalam situasi kelompok mengandung pengertian bahwa siswa dalam satu kelas dipandang sebagai satu kesatuan (kelompok) tersendiri atau dibagi atas kelompok-kelompok kecil. H. Metode Problem Solving Metode  problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab 
dalam  problem solving  dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mencari data sampai dengan menarik kesimpulan.

I.  Metode Sistem Regu (team teaching) 
Team teaching pada dasarnya adalah metode mengajar dua orang guru atau lebih bekerja sama mengajar sebuah kelompok siswa, jadi kelas dihadapi beberapa guru. System regu banyak macamnya, sebab untuk satu regu tidak senantiasa guru secara formal saja, tetapi dapat melibatkan orang luar yang dianggap perlu sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan. 

J.  Metode Latihan (Drill)  
Metode latihan pada umumnya digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan dari apa yang dipelajari. Mengingat latihan ini kurang mengembangkan bakat/inisiatif siswa untuk berpikir, maka guru/pengajar memperhatikan tingkat kewajaran dari metode drill.

K. Metode Karyawisata (Field-Trip) 
Karyawisata dalam arti metode mengajar mempunyai arti tersendiri, ber30 beda dengan karyawisata dalam arti  umum. Karyawisata di sini berarti kunjungan ke luar kelas dalam rangka  belajar. Contoh: Mengajak siswa ke gedung pengadilan untuk mengetahui system peradilan dan proses pengadilan, selama satu jam pelajaran. Jadi, karya wisatadi atas tidak mengambil tempat yang jauh dari sekolah dan tidak memerlukan waktu yang lama. Karyawisata dalam waktu yang lama dan tempat yang jauh disebut study tour.

1.1.5   Materi dan Bahan Ajar
Materi juga merupakan salah satu faktor penentu keterlibatan siswa. Adapun karakteristik dari materi yang bagus menurut Hutchinson dan Waters adalah: 

•  Adanya teks yang menarik 
•  Adanya kegiatan atau aktivitas yang menyenangkan serta meliputi kemampuan berpikir siswa 
•  Memberi kesempatan siswa untuk menggunakan pengetahuan dan ketrampilan yang sudah mereka miliki 
•  Materi yang dikuasai baik oleh siswa maupun guru 


Dalam kegiatan belajar, materi harus didesain sedemikian rupa, sehingga cocok untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan komponen-komponen yang lain, terutama komponen anak didik yang merupakan sentral. Pemilihan materi harus benar-benar dapat memberikan kecakapan dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari. Beberapa kriteria materi yaitu : 
1.  Kesahihan (Valid) yaitu materi yang dituangkan dalam kegiatan belajar mengajar benar-benar telah teruji  kebenaran dan kesahihannya, juga merupakan materi yang aktual, tidak ketinggalan zaman dan memberikan kontribusi untuk pemahaman kedepan. 
2. Tingkat kepentingan : materi yang dipilih benar-benar diperlukan peserta didik, sejauh mana materi tersebut penting untuk dipelajari. 
3. Kebermaknaan : materi yang dipilih dapat memberikan manfaat akademis yaitu memberikan dasar – dasar pengetahuan dan keterampilan yang akan dikembangkan dan manfaat non akademis yaitu mengembangkan kecakapan hidup dan sikap yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. 
4. Kelayakan : materi memungkinkan untuk dipelajari, baik dari aspek tingkat kesulitannya maupun aspek kelayakannya terhadap pemanfaatan materi dan kondisi setempat. 
5.  Ketertarikan/Menarik minat : materi yang dipilih hendaknya menarik minat dan dapat memotivasi dan menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik. 

Menurut  Asep Herry Hernawan (2002) materi mengandung aspek-aspek tertentu sesuai dengan tingkat tujuan yang ingin dicapai meliputi : 
1. Teori yaitu seperangkat konstruk atau konsep definisi atau preposisi yang saling berhubungan. 
2. Konsep merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala. 
3. Generalisasi yaitu kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus. 
4. Prosedur yaitu seri langkah-langkah yangberurutan dalam materi pelajaran yang haru dilakukan peserta didik. 
5. Prinsip yaitu ide utama. 
6. fakta yaitu sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting. 
7. Istilah yaitu kata-kata perbendaharaan yang baru  dan khusus yang diperkenalkan dalam materi. 
8. Contoh yaitu hal atau proses yang bertujuan untuk memperjelas suatu uraian. 
9. Definisi yaitu penjelasan tentang makna/pengertian tentang suatu hal/kata. 
10. Preposisi yaitu kata yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran. 

Selain itu,mencapai tiap tujuan mengajar yang telah ditentukan diperlukan bahan ajaran (Nana.Sy. sukmadinata, 1988:114). Tetapi tidak  cukup hanya isi atau bahan ajar yang dipikirkan dalam kegiatan pengembangan kurikulum, lebih dari itu adalah pengalaman belajar yang mampu mendukung pencapaian tujuan secara lebih efektif. Isi atau materi kurikulum adalah semua pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai, dan sikap terorganisasi dalam bidang studi. Sedangkan pengalaman belajar dapat diartikan sebagai kegiatan belajar tentang disiplin berpikir dari suatu disiplin ilmu. 

1.1.6 Media pembelajaran atau Alat Pembelajaran 
Media Pembelajaran merupakan sumber belajar eksternal yang menjadi bagian dari Metodologi Pembelajaran yang diatur oleh pengajar. 
Definisi media pembelajaran: 

•  Media: jamak dari medium (latin:perantara/pengantar) •  AECT Amerika: segala bentuk saluran yang digunakan untuk menyampaikan 
    pesan/informasi. 
•  Gagne (1970): berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk beljar. 
•  Birggs(1970): alat fisik   yang dapat menyajikan pesan dan merangsang siswa untuk belajar. 
•  NEA: bentuk komunikasi baik cetak maupun audiovisual serta peralatannya. 

1.1.7 Evaluasi 
Merupakan aspek kegiatan pendidikan yang dipandang paling kecil (Zais, 1976:369). Evaluasi ditujukan  untuk melakukan evaluasi terhadap belajar sisiwa maupun keefektifan kurikulum dan pembelajaran. Evaluasi kurikulum secara luas tidak hanya menilai dokumen tertulis, tetapi yang lebih penting adalah kurikulum yang diterapkan sebagai bahan fungsional  darai kejadian yang meliputi interaksi 
siswa, guru, material, dan lingkungan. 


BAB III KESIMPULAN 

Pembelajaran adalah adanya interaksi.  lnteraksi yang terjadi antara si belajar dengan lingkungan belajarnya, baik itu dengan guru, teman-temannya, tutor, media pembelajaran, dan atau sumber-sumber  belajar yang lain. Sedangkan ciri-ciri lainnyadari pembelajaran ini berkaitan dengan komponen-komponen pembelajaran itu sendiri. Dimana di dalam pembelajaran  akan terdapat komponen-komponen sebagai berikut; komponen kurikulum, materi/bahan ajar, metode, media (alat pembelajaran), 
evaluasi, anak didik/ siswa, dan adanya pendidik/guru. 


 DAFTAR PUSTAKA 
Dimyati,dkk.2009.Belajar dan Pembelajaran.Jakarta: Rineka Cipta 
Kunandar.2009.Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan 
Pendidikan (KTSP). Jakarta:Rajawali Pers 
Naim,Ngainnun. 2009. Menjadi Guru Inspiratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar 
Nurkancana, Wayan. 1986. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional  
Sudjana, Nana. 2002.  Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. 
Bandung: Sinar Baru